Hadits Lemah Tentang Keutamaan Berdagang
Hadits dha'if: “Sembilan persepuluh (90 %) rezki ada pada
(usaha) perdagangan”. Nu’aim berkata: “Usaha sepersepuluh (10 %) sisanya ada
pada (ternak) kambing”
Dari Nu’aim bin ‘Abdir Rahman al-Azdi, dia berkata: Telah
sampai kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
“Sembilan persepuluh (90 %) rezki ada pada (usaha) perdagangan”. Nu’aim
berkata: “Usaha sepersepuluh (10 %) sisanya ada pada (ternak) kambing”.
Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Musaddad bin Musarhad1 dan
Imam Abu ‘Ubaid2 dengan sanad keduanya dari Dawud bin Abi Hind, dari Nu’aim bin
‘Abdir Rahman al-Azdi, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam.
Derajat Hadits
Hadits ini adalah hadits yang lemah karena Nu’aim bin ‘Abdir
Rahman al-Azdi majhul (tidak dikenal). Imam Ibnu Abi Hatim menyebutnya dalam
kitab “al-Jarhu wat ta’diil” (8/461) dengan membawakan riwayat hadits ini dan
beliau tidak menyebutkan pujian atau kritikan, demikian pula Imam Al-Bukhari
dalam kitab “at-Taariikhul kabiir” (8/97).
Imam Al-Bushiri berkata: “Hadits ini sanadnya lemah karena
tidak dikenalnya Nu’aim bin ‘Abdir Rahman”3.
Sebab lain yang menjadikan hadits ini lemah adalah sanadnya
yang mursal (tidak bersambung) karena Nu’aim bin ‘Abdir Rahman al-Azdi tidak
pernah bertemu dengan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan dia adalah
seorang Tabi’in (generasi yang datang setelah para Shahabat Radhiallahu’anhum).
Imam Ibnu Abi Hatim berkata: “Dia meriwayatkan (hadits) dari
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam (secara) mursal (sanadnya tidak
bersambung)”4.
Imam al-‘Iraqi berkata: “Ibnu Mandah berkata tentang Nu’aim
bin ‘Abdir Rahman: Ada yang menyebutnya sebagai Shahabat Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam, tapi ini tidak benar. Abu Hatim ar-Razi dan Ibnu Hibban
mengatakan bahwa dia adalah seorang Tabi’in, maka hadits ini mursal (tidak
bersambung)”5.
Syaikh al-Albani berkata: “Hadits ini sanadnya lemah karena
tidak bersambung (mursal)6.
Hadits ini juga dikeluarkan oleh Imam Sa’id bin Manshur7
dalam kitab “as-Sunan” beliau dari jalur yang sama dengan menggandengkan Nu’aim
bin ‘Abdir Rahman dengan Yahya bin jabir ath-Thaa-i.
Akan tetapi jalur ini tidak bisa mendukung jalur riwayat
hadits di atas karena Yahya bin jabir meskipun dia seorang yang terpercaya, tapi
dia juga seorang Tabi’in, sehingga sanad jalur ini juga mursal (tidak
bersambung) dan memang Yahya bin jabir banyak meriwayatkan hadits mursal.
Imam Ibnu Hajar berkata tentangnya: “Dia terpercaya dan
banyak meriwayatkan hadits mursal”8.
Kesimpulan
Hadits ini adalah hadits yang lemah karena sanadnya yang
mursal (tidak bersambung), sebagaimana keterangan para ulama Ahli hadits di
atas.
Karena hadits ini lemah maka tidak boleh dinisbatkan kepada
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan tidak bisa dijadikan sebagai dalil
(argumentasi) untuk menetapkan bahwa usaha berdagang lebih utama dan lebih
menghasilkan banyak keuntungan materi dibanding usaha-usaha lainnya.
Cukuplah hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam yang menjelaskan keutamaan usaha berdagang, sehingga kita tidak perlu
menjadikan sandaran hadits lemah di atas. Misalnya hadits riwayat istri nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam, Ummu Salamah Radhiallahu’anha bahwa para Shahabat
Radhiallahu’anhum menyukai dan mencintai usaha berdagang, demikian juga
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam menyukai dan mencintainya9.
Tentu saja usaha berdagang yang dicintai Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam adalah yang dilakukan dengan jujur dan amanah,
karena inilah sebab yang menjadikan keberkahan dan kebaikan dalam perdagangan
dan jual beli, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Kalau
keduanya (pedagang dan pembeli) bersifat jujur dan menjelaskan (keadaan barang
dagangan atau uang pembayaran) maka Allah akan memberkahi keduanya dalam jual
beli tersebut, tapi kalau keduanya berdusta dan menyembunyikan (hal tersebut)
maka akan hilang keberkahan jual beli tersebut”10.
Bahkan seorang pedagang yang mempunyai sifat-sifat terpuji
ini akan mendapatkan pahala dan keutamaan besar di sisi Allah Ta’ala,
sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Seorang pedagang
muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan (dikumpulkan) bersama para Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid
pada hari kiamat (nanti)”11.
Sumber: muslim

Post a Comment